Saturday, October 4, 2008

Filsafat Hindu

WAISASIKA DAN MIMAMSA
Sad darsana merupakan bagian penulisan Hindu yang memerlukan kecerdasan yang tajam, penalaran serta perasaan, karena masalah pokok yang dibahasnya merupakan intisari pemahaman Weda secara menyeluruh di bidang filsafat. Sad darsana uga disebut sebagai filsafat hindu.

Filsafat hundu bukan hanya merupakan spekulasi atau dugaan belaka, namun ia memiliki nilai yang amat luhur, mulia, khas dan sistematis yang didasarkan oleh pengalaman spiritual mistis. Sad darsana yang merupakan 6 sistem filsafat hindu, merupakan 6 sarana pengajaran yang benar atau 6 cara pembuktian kebenaran. Adapun bagian-bagian dari Sad Darsana adalah :

  1. Nyaya, pendirinya adalah Gotama dan penekanan ajarannya ialah pada aspek logika.
  2. Waisasika, pendirinya ialah Kanada dan penekanan ajarannya pada pengetahuan yang dapat menuntun seseorang untuk merealisasikan sang diri.
  3. Samkhya, menurut tradisi pendirinya adalah Kapita. Penekanan ajarannya ialah tentang proses perkembangan dan terjadinya alam semesta.
  4. Yoga, pendirinya adalah Patanjali dan penekanan ajarannya adalah pada pengendalian jasmani dan pikiran untuk mencapai Samadhi.
  5. Mimamsa (Purwa-Mimamsa), pendirinya ialah Jaimini dengan penekanan ajarannya pada pelaksanaan ritual dan susila menurut konsep weda.
  6. Wedanta (Uttara-Mimamsa), kata ini berarti akhir Weda. Wedanta merupakan puncak dari filsafat Hindu. Pendirinya ialah Sankara, Ramanuja, dan Madhwa. Penekanan ajarannya adalah pada hubungan Atama dengan Brahma dan tentang kelepasan.

Ke-6 bagian-bagian dari Sad Darsana diatas merupakan secara langsung berasal dari kitab-kitab Weda, kalau diibaratkan masing-masing bagian dari Sad Darsana itu merupakan jalan untuk menuju Tuhan. Dimana untuk mencapai Tuhan kita harus melalui salah satu dari keenam jalan tersebut. Memang jalan yang kita lalui berbeda-beda namun setiap jalan mampunyai tujuan yang sama yaitu menghilangkan ketidak tahuan dan pengaruh-pengaruhnya berupa penderitaan dan duka cita, serta pencapaian kebebasan, kesempurnaan, kekekalan dan kebahagiaan abadi.

Dengan mempelajari keenam bagian dari Sad Darsana tersebut maka akan mempertajam kecerdasan serta memberi pengetahuan yang luas, pemahaman yang jelas dan lengkap tentang kebenaran, karena setiap bagian merupakan satu tahapan atau satu anak tangga di jalan Spiritual.

Demikianlah sekilas tentang Sad Darsana, yang merupakan pengantar bagi mempelajari tentang Waisasikan dan Mimamsa secara mendalam. Berikut ini akan dibahas tentang Waisasika dan Mimamsa secara mendalam.

A. Waisasika

Sistem filsafat Waisasika dipelopori oleh Rsi Kanada, beliau disebut pula dengan nama Rsi Uluka, sehingga filsafat waisasika disebut pula dengan sistem Kanada atau Aulukya. Kata Uluka artinya burung hantu, dahulu ketika Rsi Gautama terjatuh ke dalam sumur, karena memikirkan tentang dirinya, Rsi Kanada mempergunakan waktunya dengan menyibukkan dirinya disepanjang hari dengan penyelidikannya dan keluar pada malam hari untuk mengumpulkan sedekah. Karena ia sepanjang siang hari tidak pernah keliatan dan hanya berkeliling pada malam hari maka beliau dijuluki dengan nama “si burung hantu” (Uluka).

Sumber pokok ajaran Waisasika adalah kitab Waisasikasutra, buah karya Rsi Kanada. Dalam buku Waisasikasutra terdiri dari sepuluh bab, uraian permasalahan dari masing-masing bab adalah sebagai berikut :

- Bab I, berisi keseluruhan kelompok Padartha atau katagori-katagori yang dapat dinyatakan.

- Bab II, penetapan tentang benda-benda.

- Bab III, uraian tentang jiva dan indra dalam.

- Bab IV, uraian tentang badan dan bahan penyusunnya.

- Bab V, uraian tentang karma atau kegiatan.

- Bab VI, uraian tentang dharma atau kebajikan menurut kitab suci.

- Bab VII, uraian tentang sifat-sifat dan Samavaya (keterpaduan; saling hubungan).

- Bab VIII, uraian tentang wujud pengetahuan, sumbernya.

- Bab IX, uraian tentang pemahaman tertentu atau yang konkrit.

- Bab X, uraian tentang perbedaan sifat dari jiwa.

Dalam perkembangan berikutnya muncullah beberapa kitab komentar dari Waisasikasutra yang ditulis oleh para tokoh yaitu : Prasastapada yang menulis kitab Padartha-dharma-sanghara yang juga dikenal dengan nama Bhasya, Sankara menulis kitab sariraka Bhasya, Wyomasiwa menulis kitab Wyomawati, Udayana menulis kitab Kirawana dan Sridhara menulis kitab Nyaya-kandali.

Sistem filsafat Waisasika muncul pada abad ke empat sebelum masehi yang mula-mula sebagai sistem filsafat yang berdiri sendiri, akan tetapi kemudian sistem ini menjadi satu dengan Nyaya. Pada abad ke sebelas masehi kedua sistem filsafat ini berfungsi secara sempurna, sehingga oleh banyak penulis kedua sistem ini disebut Nyaya-Waisasika. Tujuan pokok Waisasika bersifat Metafisik. Isi pokok ajarannya menerangkan tentang dharma, yaitu apa yang memberikan kesejahteraan di dalam dunia ini dan yang memberikan kelepasan yang menentukan.

A.1 Padartha

Padartha secara harfiah artinya adalah : arti dari sebuah kata; tetapi disini Padartha adalah suatu permasalahan benda dalam filsafat. Sebuah Padartha merupakan suatu obyek yang dapat dipikirkan (artha) dan diberi nama (Pada). Semua hal yang ada, yang dapat diamati dan dinamai, yaitu semua obyek pengalaman dan Padartha. Benda-benda majemuk saling bergantung dan sifatnya sementara, sedangkan benda-benda sederhana sifatnya abadi dan bebas.

Sistem filsafat Waisasika terutama dimaksudkan untuk menetapkan tentang Padartha, tetapi Rsi Kanada membuka pokok permasalahan dengan sebuah pengamatan tentang intisari dari dharma, yang merupakan sumber dari pengetahuan inti dari Padartha.

Padartha pada Waisasika, seperti yang disebutkan oleh Rsi Kanada sebenarnya hanya 6 buah katagori, namun satu katagori ditambahkan oleh penulis-penulis berikutnya, sehingga akhirnya berjumlah 7 kategori (padartha), yaitu :

a. Drawya (Substansi)

Yang disebut Drawya (substansi) adalah katagori yang bebas dan tidak tergantung pada katagori yang lain, bahkan Drawya (substansi) mendasari katagori yang lain. Drawya (substansi) juga disebut sebagai kekuatan dan kegiatan zat-zat yang terdapat pada lapisan alam yang paling bawah. Tanpa Drawya (substansi) katagori-katagori yang lain tidak dapat menjelmakan dirinya. Selain dari itu, Drawya (substansi) mempunyai sifat sebagai sebab yang melekat dalam artian, telah telah ada di dalam sesuatu yang dihasilkan oleh katagori-katagori yang lain. Ada sembilan jenis Drawya (substansi) yaitu : tanah (prthiwi), air (apah), api (tejah), udara (vayu), ether (akasa), waktu (kala), ruang (dis), roh (jiva) dan pikiran (manas). Kesembilan Drawya (substansi) ini bersama-sama membentuk alam semesta, baik yang bersifat jasmani maupun rohani.

b. Guna (Kualitas)

di dalam Drawya (substansi) terdapat guna (kualitas), tetapi guna tidak bias berdiri sendiri tanpa adanya Drawya (substansi). Menurut ajaran Waisasika ada 24 guna (kualitas), yaitu : rupa (warna), rasa (perasaan), gandha (bau), sparsa (sentuhan), sabda (suara), sankhya (jumlah/hitungan), parimana (jarak), prthakwa (penerangan), samyoga (persatuan), wibhaga (tak terbagi), paratwa (tipis/sedikit), aparatwa (dekat), budhi (pengetahuan), sukha (kesenangan), dukha (kesedihan), iccha (keinginan), dwesa (kesenangan), prayatna (usaha), gurutwa (keberatan), drawatwa (keadaan cair), sneha (dalam), samskara (kecenderungan), dharma (berfaedah), adharma (cacat). Sejumlah 8 sifat yaitu : budhi (pengetahuan), sukha (kesenangan), dukha (kesedihan), iccha (keinginan), dwesa (kesenangan), prayatna (usaha), dharma (berfaedah), adharma (cacat) merupakan milik dari roh, sedangkan 16 buah lainnya merupakan milik dari substasi material.

Dari 24 jenis guna yang dikemukakan oleh sistem waisasika maka muncullah suatu pertanyaan, mengapa ada 24 guna, tidak lebih dan tidak kurang?. Jawaban yang diberikan oleh Waisasika atas pertanyaan itu adalah sebagai berikut : jika diperhitungkan berbagai sub bagian dari pada guna itu maka jumlahnya akan banyak sekali. Tetapi di dalam klasifikasi suatu benda kita mengurangi jumlah itu sehingga mencapai jumlah terakhir dari sudut pandang tertentu.

Klasifikasi guna yang banyaknya 24 jenis itu diatur oleh pertimbangan-pertimbangan dari kesadaran atau keluasannya dan pengurangan serta penambahannya. Dengan demikian guna (kualitas) adalah apa yang dianggap oleh sistem waisasika sebagai yang paling sederhana yaitu kualitas yang pasif dari suatu substansi.

c. Karma (aktivitas)

Karma atau perbuatan adalah suatu gerakan dari badan. Seperti halnya dengan Guna, Karma juga tidak dapat berdiri sendiri tanpa danya substansi, namun dalam karma dan guna memiliki beberapa perbedaan yaitu : guna adalah ciri yang stasis dari sesuatu sedangkan karma itu sifatnya dinamis, guna tidak bias membuat orang keluar dari penderitaan sedangkan karma bersifat transitif yang dapat membawa seseorang kepada suatu Tujuan tertentu. Sehingga dengan demikian antara Guna dan Karma tidak saling tergantung, melainkan sama-sama berdiri sendiri.

Dalam ajaran Waisasika ada lima macam gerakan (karma) yaitu : Utksepana (gerakan yang melemparkan ke atas), Awaksepana (gerakan yang melemparkan ke bawah), Akuncana (gerakan yang menimbulkan goncangan), Prasarana (gerakan yang menimbulkan perluasan), Gemana (kemampuan bergerak dari suatu tempat ke tampat lain).

Dalam hubungannya dengan karma, sistem Waisasika mengemukakan ada satu pokok yang amat penting yang mesti mendapat perhatian, yaitu yang menyebabkan adanya gerak itu. Terhadap hal ini Waisasika berpendapat bahwa gerak itu senantiasa dimulai oleh suatu yang memiliki kesadaran.

d. Samanya (Sifat umum)

Menurut sistem Waisasika, Samanya (sifat umum) itu adalah kekal dan nyata, tetapi di dalamnya terdapat saling keterikatan antara individu-individu yang ada. Setiap individu dalam suatu kelompok memiliki suatu sifat umum.

Dalam ajaran Waisasika ada tiga jenis sifat umum yaitu : para (yang tertinggi), apara (yang terendah) dan para-para (yang menengah).

e. Wisesa (Keistimewaan)

Melalui wisesa kita dapat mengetahui keunikan dari masing-masing substansi yang pada dasarnya tidak terbagi-bagi dan bersifat kekal seperti misalnya ruang, waktu, akasa, jiwa, pikiran dan atom-atom dari Catur Bhuta.

Sebagai bagian substansi yang bersifat kekal, wisesa pada dirinya sendiri adalah bersifat abadi. Wisesa tidak terbagi-bagi dan bersifat abstrak.

f. Samawaya (Pelekatan)

Dalam hubungannya dengan samawaya, Waisasika munyatakan bahwa samawaya adalah hubungan yang kekal yang terdapat pada masing-masing bagian dari suatu benda yang disebabkan oleh adanya gerak, kualitas dan sifat umum dari wujud yang terkecil dari benda itu sendiri.


g. Abhawa (Ketidak adaan)

Sesungguhnya ketidak adaan itu bukanlah berarti penyangkalan terhadap adanya sesuatu. Abhawa atau ketidak adaan itu ada 2 jenis yaitu :

- Samsargabhawa : ketidak adaan suatu substansi di dalam suatu tempat. Samsargabhawa terbagi atas tiga jenis, yaitu : Praghabawa (suatu benda tidak ada sebelum dibuat), Dhwamsabhawa (tidak adanya suatu benda tidak ada sesudah benda itu dirusakkan) dan Atyantabhawa (tidak adanya sesuatu benda (sifat suatu benda) pada benda-benda lain, baik pada jaman dahulu, sekarang maupun masa yang akan dating.

- Anyonyabhawa : berarti tidak adanya hubungan antara dua buah benda yang saling berbeda.

A.2 Cara Mendapatkan Pengetahuan Menurut Waisasika

Alat untuk mendapatkan pengetahuan menurut Waisasika hanya ada 2 yaitu Pratyaksa Pramana dan Anumana Pramana. Waisasika menolak adanya Upamana dan Sabda Pramana, karena hal ini dipandang memberikan kebenaran yang meragukan. Maka Waisasika hanya mengakui dua Pramana yaitu Anumana Pramana dan Pratyaksa Pramana.

Pratyaksa Pramana atau pengamatan, memberi pengetahuan kepada kita mengenai sasaran yang diamati menurut ketentuan dari sasaran itu masing-masing.

Anumana berarti pengetahuan yang kemudian. Pengetahuan yang didapat dengan Anumana atau Kesimpulan adalah dengan melihat suatu tanda yang selalu memiliki hubungan dengan objek yang ditarik kesimpulannya.


A.3 Terjadinya Alam Semesta menurut Waisasika

Terjadinya alam semesta menurut sistem filsafat Waisasika memiliki kesamaan dengan ajaran Nyaya yaitu dari gabungan atom-atom catur bhuta (tanah, air, cahaya dan udara) ditambah dengan lima substansi yang bersifat universal seperti akasa, waktu, ruang, jiwa dan manas. Lima substansi universal ini tidak memiliki atom-atom, maka itu ia tidak dapat memproduksi sesuatu di dunia ini. Cara penggabungan atom-atom itu dimulai dari dua atom (dwynuka), tiga atom (Triyanuka), dan tiga atom ini saling menggabungkan diri dengan cara yang bermacam-macam, maka terwujudlah alam semesta beserta isinya.

Bila gabungan atom-atom dalam Catur Bhuta ini terlepas satu dengan lainnya maka lenyaplah alam beserta isinya. Gabungan dan terpisahnya gerakan atom-atom itu tidaklah dapat terjadi dengan sendirinya, mereka digerakkan oleh suatu kekuatan yang memiliki kesadaran dan kemahakuasaan. Sesuatu yang memiliki kesadaran dan kekuatan yang maha dahsyat itu menurut Waisasika adalah Tuhan Yang Maha Esa.

A.4 Etika dalam Waisasika

Waisasika dalam etikanya menganjurkan semua orang untuk kelepasan. Kelepasan akan dapat dicapai melalui Tatwa Jnana, Srawana, manana, dan Meditasi.

B. MIMAMSA

Purwa Mimamsa atau yang lebih dikenal dengan mimamsa, adalah penyelidikian ke dalam bagian yang lebih awal dari kitab suci Weda; suatu pencarian kedalam ritual-ritual Weda atau bagian Weda yang berurusan dengan masalah Mantra dan Brahmana saja.

Mimamsa sebenarnya bukanlah cabang dari suatu sistem filsafat, tetapi lebih tepat kalau disebutkan sebagai suatu sistem penafsiran Weda dimana diskusi filosofisnya sama dengan semacam ulasan kritis pada Brahmana atau bagian ritual dari Weda, yang menafsirkan kitab Weda dalam pengertian berdasarkan arti yang sebenarnya.

Sebagai filsafat Mimamsa mencoba menegakkan keyakinan keagamaan Weda. Kesetiaan atau kejujuran yang mendasari keyakinan keagamaan Weda terdiri dari bermacam-macam unsure, yaitu :

- Percaya dengan adanya roh yang menyelamatkan dari kematian dan mengamati hasil dari ritual di sorga.

- Percaya tentang adanya kekuatan atau potensi yang melestarikan dampak dari ritual yang dilaksanakan.

- Percaya bahwa dunia adalah suatu kenyataan dan semua tindakan yang kita lakukan dalam hidup ini bukanlah suatu bentuk illusi.

Tokoh pendiri dari sistem filsafat Mimamsa adalah Maharsi Jaimini. Beliau menulis kitab Mimamsasutra yang menjadi sumber ajaran pokok Mimamsa.

Ajaran Mimamsa bersifat pluralistis dan realistis yang mengakui jiwa yang jamak dan alam semesta yang nyata serta berbeda dengan jiwa. Karena sangat mengagungkan Weda, maka Mimamsa menganggap Weda itu bersifat kekal dan tanpa penyusun, baik oleh manusia maupun oleh Tuhan. Apa yang diajarkan oleh Weda dipandang sebagai suatu kebenaran yang mutlak. Menurut filsafat Mimamsa, pelaksanaan upacara keagamaan adalah semata-mata perintah dari Weda dan merupakan suatu kewajiban yang mendatangkan pahala. Kekuatan yang mengatur antara pelaksanaan upacara tersebut dengan pahalanya disebut apurwa.

Mengenai Jiwa, Mimamsa menyatakan bahwa jiwa itu banyak dan tak terhingga, bersifat kekal, ada dimana-mana dan meliputi segala sesuatu. Karena adanya hubungan antara jiwa dengan benda, maka jiwa mengalami awidya dan kena Karmawesana.

B.1 Pengetahuan Menurut Mimamsa

Dalam sistem mimamsa mengenal dua jenis pengetahuan yaitu, immediate dan mediate. Immediate adalah pengetahuan yang terjadi secara tiba-tiba, langsung dan tak terpisahkan. Sedangkan mediate ialah pengetahuan yang diperoleh melalui perantara.

Obyek dari pengetahuan immediate haruslah sesuatu yang ada atau zaat. Pengetahuan yang datangnya tiba-tiba dan tidak dapat ditentukan terlebih dahulu disebut niewikalpa pratyaksa atau alocana-jnana. Dari pengetahuan immediate obyeknya dapat dilihat tetapi tidak dapat dimengerti.

Obyek dari pengetahuan mediate juga sesuatu yang ada dan dapat diinterprestasikan dengan baik berdasarkan pengetahuan yang dimiliki. Dalam pengetahuan mediate obyeknya dapat dimengerti dengan benar, pengetahuan semacam ini dinamakan sawikalpa Pratyaksa.

Mengenai alat pengetahuan dalam ajaran mimamsa diakui ada enam jenis, yaitu : Pratyaksa, Anumana, Upamana, Sabda, arthapatti dan Anupalabdhi.

B.2 Etika dalam Mimamsa

Mimamsa menyatakan bahwa, kehidupan yang baik adalah kehidupan yang mengabdi pada perintah-perintah Weda. Kesimpulan yang dikemukakan dalam hubungan ini oleh Mimamsa bahwa agama didasarkan pada perintah-perintah Weda.

Daftar Pustaka

Masniwara, I Wayan. 1998. Sistem Filsafat Hindu. Paramita : Surabaya.

Sumawa, I Wayan dan Tjokorda Raka Krisnu. 1996. Materi Pokok Darsana. Universitas Terbuka : Jakarta.

No comments:

Post a Comment

tulis komentar

Post a Comment